Galeri

TARGET SETORAN CUKAI ROKOK TAHUN 2012 NAIK


Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai incar setoran Rp 65 triliun dari hasil cukai tembakau di 2011. Cukai rokok ini 95% dari penerimaan cukai yang ditargerkan Rp 68,075 triliun.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Bea dan Cukai Agung Kuswandono dalam laporannya kepada Komisi XI DPR, Rabu (23/11/2011).

Dalam laporan tersebut dikatakan pendapatan cukai pada 2011 mencapai Rp 68,075 triliun. Dari jumlah itu Rp 65 triliun dari cukai hasil tembakau dan sisanya sekitar Rp 3,075 triliun berasal dari cukai minuman beralkohol.

Secara total, penerimaan Bea dan Cukai sampai 15 November 2011 mencapa Rp 112 triliun, atau mencapai 97,41% dari target APBN-P 2011 Rp 115 triliun. Angka ini tumbuh positif karena naik 43,3% dibanding periode yang sama di 2010 lalu.

Selain itu, Bea Cukai mengincar setoran Rp 46,936 triliun dari pajak internasional. Ini terdiri bea masuk Rp 21,5 triliun dan bea keluar sebesar Rp 25,439 trliun.

Bea Cukai merasa yakin target setoran penerimaan Rp 115 triliun di 2011 bisa tercapai.

Berdasar asumsi tersebut mulai 1 Januari 2012 pemerintah menaikkan tarif cukai rokok antara 8,3-51,1% atau rata-rata 16,3%. Kemudian, batasan produksi rokok tahun depan juga akan ditekan. Ini dilakukan untuk mengejar target setoran cukai rokok Rp 72 triliun tahun depan atau naik dari tahun ini Rp 65 triliun.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Humas Kementerian Keuangan Yudi Pramadi dalam siaran pers, Jumat (2/12/2011), dan isi dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 167/2011 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau yang dikutip, Rabu (23/11/2011).

PMK tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo pada 9 November 2011 dan mulai berlaku 1 Januari 2012.

Di dalamnya dikatakan, pemerintah menekan batasan jumlah produksi rokok buatan tangan golongan II dan III, serta menyederhanakan jumlah golongan produksi rokok menjadi 15 golongan.

Dalam PMK itu, produksi sigaret kretek tangan (SKT)/sigaret putih tangan (SPT) golongan II dibatasi antara 300 juta-2 miliar batang dari sebelumnya 400 juta-2 miliar batang. Sedangkan golongan III maksimal 300 juta batang dari sebelumnya 400 juta batang.

Kenaikan tarif cukai bervariasi tiap golongan pengusaha pabrik hasil tembakau. Untuk hasil tembakau produksi dalam negeri, kenaikan tertinggi pada sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret putih tangan (SPT) dengan harga jual eceren (HJE) lebih dari Rp590 per batang/gram dengan kenaikan cukai 51,1%, dari Rp 235 menjadi Rp 355 per batang.

Sementara yang terendah SKT/SPT dengan HJE berkisar Rp 550-Rp 590 per batang/gram, cukainya naik 8,5% dari Rp 180 menjadi Rp 195 per batang.

Melalui aturan tersebut, Menteri Keuangan juga menyederhanakan lapisan tarif cukai hasil tembakau lokal menjadi 32 lapis, dari sebelumnya 37 lapis. Sementara tarif cukai dan HJE minimum produk hasil tembakau impor tetap 9 lapis.

“Jangan lihat average (rata-rata), tapi layer per layer ada yang kenaikan kecil dan ada yang besar yang sudah mempertimbangkan rasa keadilan untuk industri dalam negeri,” tegasnya.

Untuk struktur tarif, dengan mempertimbangkan roadmap industri hasil tembakau, diambil kebijakan penyederhanaan struktur tarif dari 19 layer menjadi 15 layer dengan menggabungkan beberapa layer dalam beberapa golongan jenis hasil tembakau, yaitu sebagai berikut:

SKM golongan II layer 3 digabung/dinaikkan ke dalam layer 2, sehingga SKM golongan II hanya terdiri dari 2 layer;
SPM golongan I dari 3 layer digabung menjadi 1 layer pada layer 1;
SKT golongan I layer 3 digabung/dinaikkan dalam layer 2 sehingga SKT golongan I hanya terdiri dari 2 layer; sedangkan
SKT golongan III masih dipertahankan dan tidak mengalami perubahan.

Khusus untuk pengusaha pabrik jenis SKT dan Sigaret Putih Tangan (SPT) dilakukan perubahan batasan jumlah produksi pabrik, yaitu golongan II menjadi lebih dari 300 juta batang tetapi tidak lebih dari 2 miliar batang dan golongan III menjadi tidak lebih dari 300 juta batang.

Secara rata-rata kenaikan tarif cukai untuk tahun 2012 adalah sekitar 16,3 % dengan produksi hasil tembakau diperkirakan mencapai 268,4 miliar batang. Beban cukai hasil tembakau dinaikkan secara moderat berkisar mulai Rp 10 sampai dengan Rp 70 per batang.

Tarif cukai untuk hasil tembakau jenis Tembakau Iris (TIS), Cerutu (CRT), Klobot (KLB), Kelembak Menyan (KLM), dan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) tidak dilakukan perubahan.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebelumnya mengatakan kenaikan cukai rokok dilakukan agar konsumsi rokok menurun demi kesehatan masyarakat.(ybep/PA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s